Di Garis Start

07/11/07
Aku masih di sini
sementara mereka sudah berlari
aku masih menginjak garis "start"
sedangkan mereka sudah bertemu garis "finish"

ku dengar suara2 teriakan yang mendukung jagoan masing2
satu persatu nama2 mereka disebut2
oleh pendukung mereka

namun aku terpaku di sini, di garis "start"
tak beranjak hanya menyimak
hanya menatap ribuan pasang kaki itu
berlari, manjauh, tanpa menoleh

aku masih terdiam di tempat yang sama
mendengar suara2 teriakan itu
teriakan itu menjatuhkan mental ku
aku tertekan, aku seperti menciut!!

"hey!! sedang apa kau di situ?!"
aku menoleh..aku kenal suara itu!!
mereka datang, mereka saudara(i)ku!
mereka menyemangatiku!!

aku mencoba melangkahkan kakiku
aku ingin melihat mereka tersenyum
aku ingin mewujudkan mimpi2 mereka!!
namun,,aku tak dapat bergerak

aku terdiam
aku menangis
aku terjatuh

aku bagai tak berguna
harapan itu bagai terbang dibawa angin
aku tak bisa berbuat apa2

aku ingin bangkit
aku ingin berdiri
aku ingin berlari

untuk mereka
agar mereka tersenyum
agar aku bisa membalas budi yang sudah begitu banyak
menyelimuti dan membalut diriku...

aku masih di sini, di tempat ini,
berjongkok bersama kecewa, di garis ini,
di garis start....
entah kapan bisa melangkah
entah kapan mampu berlari
entah kapan menyapa garis finish...
untuk kalian, kanda2ku, saudara(i)ku

maaf,,aku masih di sini

belum beranjak...belum bisa berbuat, belum bisa membantu
tapi aku pasti coba!!!

Seorang Kawan Di Sudut Ranjang

Lihat di sudut ranjang itu!
ada seorang teman dengan wajah muram
dengan hati demam
di sudut ranjang itu
ada seorang saudaraku yang bermata sembab dan pipi yang lembab

di atas ranjang itu
ada sesosok tubuh yang terbukur kaku
dengan sarung yang menutupi seluruh tubuhnya...

"siapa dia?" aku bertanya "diakah yang membuat wajah kawanku muram?"
"diakah yang menyebabkan mata saudaraku sembab?"
aku seperti bertanya pada tembok yang hanya terdiam, suram, tanpa geram...

aku menepuk bahu kawanku
berharap mendapat jawaban untuk pertanyaanku
dia menoleh, wajah muram itu mengingatkanku pada wajahku dulu
ketika inangku meninggalkanku

aku terdiam, tanya itu tak lagi mampu kuucapkan
tanganku mendingin, sedingin aura ruangan itu

kawan di sudut ranjang itu menatapku kosong
dengan satu kata dia membuatku berlutut memberi hormat
"bapak" katanya
bapaknya dipanggil Tuhan
bapaknya pergi
ya, pergi untuk selamanya

kawan di sudut ranjang itu
menatap bapaknya dengan mata berair
dan aku dibelakangnya mencoba menghibur
denagn memberi sedikit senyum hambar
namun tak mampu membuat sedihnya bubar

untuknya seorang kawan, seorang saudara

yang baru saja ditinggal bapaknya,,,yang tabh ya kawan!!

pada waktunya semua orang pasti pergi...namun, sekarang kami masih ada di sini

untukmu saudaraku,,Adhy R.P