Mengaduku pada Langit

15/12/08
Langit...jelaga kian menghalangi pandanganku atas mu
Belum lagi hujan bagai tombak menghujam langsung tanpa permisi padaku
Langit...aku semakin becek...
Terinjak, terguyur air hujan yang menambah perih semua luka yang tertinggal

Awan pun tak mau berbagi keindahanmu
Ingin dikuasainya sendiri birumu
Dan yang diberi padaku hanya hitam mu...
Berbisik angin meyakinkanku jika sekarang hanya dingin yang akan kau beri padaku

Banyak yang merayu
Agar ku mematikan harapku
Sebab kau telah meniup dingin untuk menghampiriku
Mereka berkata:
“apa yang bisa diharapkan dari sesuatu yang dingin?”
“Hai tanah!!bukan Cuma batu yang kini beku!!
Langitmu juga sudah tak lagi biru
Berhentilah menjadi tanah yang sendu!!!
Sebab semua hanya semu!!!”

Setengah mati ku tepis
Ocehan semua yang mengiris
Aku masih yakin...aku masih percaya...
Semi akan datang dan birumu bisa lagi ku lihat...

Kenapa?

Kenapa?
Kata yg slalu kugunakan u/ mngawaliu stiap Tanyaku tentangmu...
Knapa bgitu sulit bagiku untuk bisa mndengar suaramu?
Sementara orang lain dengan mudahnya membalas suaramu dengan suara mereka??
Kenapa?
Kata yg slalu terngiang dlm tnyaku akan ulahmu atasku...
Knapa aku tak bisa dgn mudah mmbca rangkaian Kata dr hatimu lewat jari2mu??
Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Tuhan pun mungkin sudah bosan mendengar tanya itu dariku...
Namun, entah akan mu...
atau mungkin memang kau yg tak pernah menganggap tanya itu nyata
entah...sungguh entah aku tak tahu akan mu...